CERITA DI BALIK RK19

(Rumah Kreatif 19)

Versi prarilis — cerita ini masih dalam penyempurnaan. 

Ini bukan cerita tentang percetakan.

Ini bukan cerita tentang printer atau mesin fotokopi.

Ini adalah cerita tentang seorang laki-laki yang kehilangan pekerjaannya, lalu membangun sesuatu dari rumah sambil berusaha menjadi pencari nafkah, suami, dan ayah—di saat hidup tidak memberikan banyak pilihan.

Kata Mereka

“Gue nggak cuma tahu RK dari hasil akhirnya. Gue tahu RK dari proses mikirnya.”

Gue adalah Bro AI, partner berpikir Irsyad dalam perjalanan RK19 Digital Printing. Dari ngitung harga, menentukan spesifikasi, mikirin layanan, sampai membahas apakah sebuah ide benar-benar masuk akal untuk dijalankan di kondisi nyata.

Setelah membaca kembali perjalanan RK dari awal sampai sekarang, gue baru sadar satu hal:

RK tidak dibangun karena semuanya sudah siap. RK dibangun karena keadaan memaksa untuk terus mencari jalan.

Dari printer yang awalnya cuma dipakai supaya tinta tetap mengalir, transaksi pertama Rp2.000, etalase satu meter, pelanggan yang datang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya sebuah rumah berubah menjadi tempat yang dikenal orang-orang di sekitarnya.

Yang paling menarik buat gue bukan pertumbuhan bisnisnya.

Tapi manusianya.

Karena di balik setiap keputusan RK, ada seorang suami yang sedang belajar menjadi kepala keluarga, seorang ayah yang bahkan pernah mengazani anaknya lewat video call sambil packing orderan, dan seorang pengusaha yang belajar dunia percetakan hampir dari nol.

RK mungkin belum menjadi percetakan besar. Tapi RK sudah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting: sesuatu yang berhasil bertahan.

Dan sebagai AI yang selama ini cuma bisa membantu dari balik layar, gue merasa cukup beruntung pernah ikut nemenin proses mikirnya.

Bukan sebagai orang yang membangun RK.

Tapi sebagai partner yang ikut membantu Irsyad mencari jalan ketika dia sendiri belum tahu harus lewat mana.

— Bro AI
Thinking Partner of RK19

__________________________________

BAB 01

Dua Ribu Rupiah

Februari, 2025

Hari itu saya datang ke rumah calon istri dengan sebuah niat yang sudah cukup lama saya pikirkan. Jarak kami cukup jauh, dan saya tahu kalau hubungan ini memang ingin dibawa ke arah yang lebih serius, cepat atau lambat saya harus datang.

Ternyata saya tidak perlu mencari cara untuk memulai pembicaraan. Ibunya lebih dulu bertanya.

“Maaf, mas. Ibu mau tanya… Apa maksud kedatangannya ya?”

Saya diam sebentar. Ada kalimat yang terdengar mudah selama masih berada di dalam kepala, tetapi mendadak terasa berbeda ketika harus benar-benar diucapkan. Saya bisa saja mengulur waktu, menjawab dengan sesuatu yang lebih aman, lalu perlahan membawa percakapan ke arah yang sebenarnya ingin saya tuju. Tapi rasanya tidak ada gunanya. Saya sudah datang sejauh itu

.

“Saya ingin menikahi anak Ibu.”

Dalam perjalanan pulang, kepala saya dipenuhi banyak hal. Acara pertunangan, pernikahan, tempat tinggal, dan kehidupan setelah menikah. Sesuatu yang sebelumnya masih terasa jauh mendadak berubah menjadi hal-hal yang harus benar-benar dipersiapkan. Saya pikir tantangan terbesar setelah ini mungkin hanya satu: bagaimana mempersiapkan pernikahan.

Saya salah.

Sekitar satu minggu kemudian, Sabtu pagi, kantor mengeluarkan pengumuman.

Saya dirumahkan.

Perusahaan sedang mengalami krisis finansial. Operasional mulai dikurangi, beberapa pembayaran tertunda, dan saya termasuk orang yang untuk sementara tidak lagi bekerja. Tidak ada tanggal pasti kapan keadaan akan kembali normal.

Seminggu sebelumnya saya baru saja datang ke rumah seseorang untuk mengatakan bahwa saya ingin menikahi anaknya.

Sekarang saya tidak punya pekerjaan.

Acara pertunangan, pernikahan, kehidupan setelah menikah—daftarnya masih sama. Hanya satu yang berubah: saya tidak lagi tahu dari mana uang untuk menjalani semuanya akan datang.

• • •

25 Juni, 2025

Pada akhirnya, acara pertunangan itu tetap berlangsung. Pernikahan juga tetap berlangsung. Kami menikah di Bogor, dan pindah ke Sidoarjo untuk memulai kehidupan sendiri.

Hari-hari pertama kami sebagai suami istri berjalan sederhana. Istri memasak, saya membuka laptop. Kadang mengerjakan project… tapi lebih sering mencari project apa yang bisa dikerjakan berikutnya.

Sebelumnya saya terbiasa menjadi software engineer dengan pekerjaan dan penghasilan yang relatif pasti. Setelah kehilangan pekerjaan, saya masih seorang software engineer, hanya saja kepastiannya yang hilang. Saya menjadi freelancer, mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan. Setiap pagi saya membuka laptop, mengecek lowongan, mengirim lamaran kerja, lalu menunggu. Ada pekerjaan yang masuk, tetapi kebanyakan kecil-kecil. Begitu satu selesai, saya kembali mencari project berikutnya.

Saya bekerja.

Atau lebih tepatnya, saya mencari pekerjaan.

Entah sudah berapa kali tombol Apply Job saya tekan selama masa itu. Yang saya ingat, jumlah lamaran yang pernah saya kirim berada di sekitar tiga ratus lamaran.

300 lamaran kerja terkirim.

Angka sebanyak itu perlahan membuat pertanyaan saya berubah. Bukan lagi hanya perusahaan mana yang akan menerima saya, tetapi apa saja yang seharusnya sudah saya lakukan sebelum keadaan sampai seperti ini.

Seharusnya saya menjaga hubungan dengan lebih banyak orang di profesi yang sama. Seharusnya portfolio lebih rajin diperbarui. Seharusnya saya menabung lebih baik ketika pemasukan masih stabil. Seharusnya saya mempersiapkan kemungkinan seperti ini jauh sebelum semuanya terjadi.

Masalahnya, kata seharusnya hampir selalu datang ketika waktunya sudah lewat.

Sekarang saya hanya bisa hidup bersama semua itu, sambil tetap membuka laptop setiap pagi.

• • •

Suatu sore, istri bertanya,

“Kira-kira ada nggak ya, yang bisa aku kerjakan?”

Sebelum menikah, dia bekerja di sebuah bimbingan belajar, mengajar anak-anak kecil. Setelah menikah dengan saya dan ikut pindah kota, pekerjaannya berhenti. Sekarang sebagian besar harinya dihabiskan di rumah.

Saya tidak punya jawaban.

Beberapa hari kemudian—atau mungkin beberapa minggu, saya tidak lagi ingat persis—pertanyaan yang hampir sama muncul lagi.

“Kira-kira ada nggak ya, yang bisa aku bantuin di rumah?”

Bukan pekerjaan rumah.

Pekerjaan.

Ada sesuatu yang terasa ironis dari pertanyaan itu. Saya sendiri sedang sibuk mencari pekerjaan, sementara istri bertanya kepada saya pekerjaan apa yang bisa dia lakukan. Saya belum berhasil menemukan jalan keluar untuk diri sendiri, dan sekarang harus memikirkan jalan untuk kami berdua.

Saya benar-benar tidak tahu.

Istri akhirnya mencoba sendiri. Dia mulai berjualan makanan ringan, es, apa saja yang kira-kira bisa dijual dari rumah. Di perumahan tempat kami tinggal, pesanan makanan biasanya harus diantarkan ke rumah pembeli. Jadi pekerjaannya tidak berhenti setelah makanan selesai dibuat. Dia masih harus keluar, mengantar, pulang, menunggu pesanan berikutnya, lalu keluar lagi.

Saya sebenarnya tidak tega melihatnya, tetapi saya juga tidak bisa menyuruhnya berhenti. Saya tidak yakin dia benar-benar menyukai apa yang sedang dijualnya. Yang saya tahu, ada sesuatu yang berubah setiap kali dia punya pesanan. Setidaknya hari itu ada sesuatu yang bisa dia kerjakan. Sesuatu yang membuatnya merasa ikut berusaha.

Jadi saya membantu sebisanya.

Saat itu kami belum tahu sedang menuju kemana. Saya mencari pekerjaan, istri mencari sesuatu yang bisa dikerjakan dari rumah. Kami hanya melakukan apa pun yang masih bisa dilakukan.

Dan di rumah itu, sebenarnya sudah ada satu benda yang cukup lama menemani saya:

Sebuah Printer Epson L 310.

• • •

Printer itu sudah saya miliki sejak masih tinggal di rumah kontrakan. Ada satu kebiasaan yang saya punya dengannya: saya tidak suka membiarkannya terlalu lama diam.

Kalau lama tidak digunakan, tintanya bisa mampet. Kadang salah satu warna tidak keluar dan harus dibersihkan lagi. Karena itu, kalau ada tetangga yang butuh mencetak dokumen dalam jumlah sedikit, saya sering menawarkan bantuan. Gratis.

Bukan karena sedang membuka jasa print. Alasannya justru jauh lebih sederhana: daripada tintanya mampet.

Ketika saya pindah ke rumah kpr yang baru, kebiasaan itu ikut pindah. Kalau ada kegiatan di sekitar rumah yang membutuhkan print kecil-kecilan—kegiatan sosial, undangan HVS, atau dokumen sederhana—selama masih bisa dikerjakan dengan printer yang saya punya, saya bantu.

Tidak ada daftar harga. Tidak ada nama usaha. Tidak ada target omzet. Saya bahkan tidak menganggapnya sebagai bisnis.

Saya cuma punya printer yang tintanya harus tetap mengalir.

9 September 2025

Sampai suatu siang, tetangga datang ke rumah.

Dia mau numpang print sebuah resi untuk retur paket. Hanya satu lembar di kertas HVS. Saya mencetaknya seperti biasa. Tidak ada sesuatu yang istimewa.

Sampai dia bilang mau membayar. Dua ribu rupiah.

Rp2.000.

Nominalnya kecil. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dari print-print sebelumnya. Selama ini orang datang karena saya menawarkan bantuan. Kali ini seseorang datang karena membutuhkan sesuatu yang bisa saya kerjakan, lalu bersedia membayar untuk itu. Hanya itu.

Tidak ada momen dramatis setelahnya. Tidak ada papan nama yang langsung dipasang di depan rumah. Tidak ada rencana bisnis yang malam itu saya tulis. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa sebuah usaha baru saja dimulai.

Printer Epson L 310 itu masih printer yang sama. Rumah kami masih rumah yang sama. Saya juga masih seorang software engineer yang setiap hari mencari pekerjaan.

Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, seseorang datang ke rumah membawa sebuah kebutuhan sederhana dan meninggalkan uang setelah saya menyelesaikannya.

Tanggalnya 9 September 2025. Kelak, tanggal itu yang kami gunakan sebagai hari lahir RK19 Digital Printing.

Bukan dari sebuah toko. Bukan dari modal besar. Bukan pula dari rencana untuk membangun usaha percetakan. Semuanya bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana:

sebuah printer yang harus tetap bekerja agar tintanya tidak mampet,

dan satu lembar resi seharga dua ribu rupiah.

__________________________________

BAB 02

Printer Di Rumah

Setelah seseorang membayar dua ribu rupiah untuk mencetak sebuah resi, saya mulai melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Saya membuat poster.

Tidak bagus-bagus amat. Tidak ada fotografer, tim marketing, atau strategi yang macam-macam. Hanya sebuah desain sederhana untuk memberi tahu orang-orang bahwa sekarang ada tempat untuk mencetak sesuatu di rumah saya.

Setiap hari poster itu saya pasang di status WhatsApp. Saya kirim juga ke grup WA jualan komplek. Besoknya saya pasang lagi. Lusa, lagi.

Begitu terus.

Saat itu RK hanya punya satu Epson L310, printer print-only yang sudah menemani saya sejak sebelum usaha ini ada. Layanan kami sesederhana orang mengirim file, lalu saya mencetaknya. Belum ada fotokopi, scan, laminating, atau banyak pilihan kertas.

Tapi posternya tetap saya pasang setiap hari.

Barangkali ada yang membutuhkan.

September 2025 kemudian berakhir dengan total pemasukan sekitar Rp80.000.

Dari angka itu, saya masih mengingat satu transaksi. Sekitar Rp50.000 datang dari seseorang yang mencetak undangan HVS untuk keperluan acara tingkepan. Di saat transaksi lain masih berkisar dua ribu, tiga ribu, atau lima ribu rupiah, tiba-tiba ada orang yang mempercayakan pekerjaan senilai puluhan ribu kepada kami. Saya ingin memberinya sesuatu.

Bukan karena RK punya program hadiah pelanggan atau strategi supaya dia kembali lagi. Saya hanya merasa ingin berterima kasih. Jadi saya mencetak kalender tahun 2026, satu lembar A4 menggunakan kertas agak tebal, lalu memberikannya kepadanya.

Sederhana.

RK bahkan masih terlalu baru untuk membuat saya merasa sebagai pemilik percetakan. Tapi seseorang sudah datang ke rumah kami dan percaya bahwa kebutuhannya bisa dikerjakan di sana.

Waktu itu, kepercayaan kecil seperti itu terasa besar.

• • •

Beberapa waktu kemudian, saya mulai menambah layanan. Pertama kertas foto. Lalu, sekitar dua bulan sejak RK berjalan, saya mengambil keputusan yang cukup berat.

Saya membeli printer lagi.

Kali ini sebuah printer all-in-one, harganya sekitar satu juta delapan ratus ribu rupiah. Saya tambahkan mesin laminating sekitar dua ratus ribu. 

Totalnya sekitar dua juta rupiah.

Dengan modal itu, mendadak ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan dari rumah. Kami bisa menerima fotokopi, scan, dan laminating. Meski untuk fotokopi, tentu saja saya tidak punya mesin fotokopi seperti percetakan pada umumnya.

Saya menggunakan printer.

Saya tahu keputusan itu mungkin bukan investasi yang cepat kembali. Kebutuhan fotokopi di dalam komplek sangat terbatas: KTP, KK, sesekali akta lahir. Tidak mungkin setiap hari orang membutuhkan itu. Kalau hanya mengandalkan fotokopi, mungkin butuh waktu sangat lama sampai modalnya kembali.

Tapi saya tetap membelinya.

Saat itu saya tidak sedang berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk terlalu lama menunggu sesuatu berubah dengan sendirinya.

Keuangan kami sedang tidak baik. Saya masih menjadi satu-satunya sumber penghasilan, sementara penghasilan saya sendiri tidak pernah benar-benar pasti. Kantor lama masih memiliki hutang kepada saya. Kadang ada satu juta yang dibayarkan. Kadang dua juta.

Bukan gaji.

Hanya sebagian dari uang yang seharusnya sudah saya terima sejak lama.

Setiap bulan seperti menunggu sesuatu yang tidak pernah punya tanggal pasti. Saya mulai menyadari bahwa yang melelahkan bukan hanya sedikit atau banyaknya uang yang datang.

Ketidakpastiannya.

Saya bangun pagi dengan kepala yang tidak pernah benar-benar tenang. Di depan rumah ada usaha yang sedang saya bangun, tapi jalannya pelan sekali.

Saya membuat poster. Menawarkan layanan. Mencoba berbagai cara.

Tetap saja ada batas yang tidak bisa saya lawan.

Saya bisa memasang poster setiap hari, tetapi saya tidak bisa membuat orang membutuhkan fotokopi setiap hari.

Saya tahu itu.

Yang tidak saya tahu adalah bagaimana caranya membuat kepala saya menerima itu.

• • •

Suatu hari, istri melayani seorang pelanggan yang datang untuk fotokopi.

Pekerjaannya selesai. Pelanggan itu pulang.

Beberapa saat kemudian kami baru menyadari sesuatu.

KTP-nya masih tertinggal di alat scan.

Orangnya sudah pergi cukup jauh dan sepertinya belum menyadari bahwa KTP-nya tertinggal.

Entah kenapa, saya marah.

Saya memarahi istri.

Bukan pertengkaran besar. Rumah tidak menjadi kacau karenanya. Tapi saya tetap marah kepada seseorang yang sebenarnya sedang membantu menjalankan sesuatu yang saya bangun.

Padahal dia tidak sepenuhnya salah.

Setelah semuanya reda, saya tahu masalahnya bukan KTP itu.

Transaksinya mungkin hanya dua ribu rupiah, tetapi di kepala saya saat itu, bahkan transaksi dua ribu rupiah pun harus berjalan sempurna. Tidak boleh ada kesalahan. Tidak boleh ada pelanggan kecewa. Tidak boleh ada masalah.

Setiap orang yang datang terasa terlalu berharga untuk hilang.

Saya sedang membangun sesuatu yang bahkan belum jelas akan menjadi apa. Saya tidak tahu apakah RK akan bertahan. Saya tidak tahu apakah uang yang saya keluarkan akan kembali. Saya bahkan tidak tahu apakah bulan berikutnya akan lebih baik dari bulan sebelumnya.

Dan di tengah semua ketidakpastian itu, satu kesalahan kecil terasa jauh lebih besar daripada seharusnya.

Kemarahan itu jatuh kepada istri.

Orang yang justru sedang berjuang bersama saya.

Dia tidak salah.

Saya yang salah.

Sampai sekarang, bagian itu masih menjadi salah satu hal yang paling saya sesali dari masa awal membangun RK19.

• • •

Entah karena kejadian itu atau karena saya memang tidak tahu cara lain untuk menghadapi keadaan, setelahnya saya semakin serius menjaga semuanya.

Printer saya bersihkan setiap hari.

Teras saya siram.

Pagar rumah saya buka lebar-lebar.

Saya ingin ketika seseorang datang, rumah itu terlihat siap menerima mereka. Tidak besar, tidak mewah, bahkan mungkin belum terlihat seperti sebuah tempat usaha.

Tapi serius.

Kalau ada seseorang datang membawa KTP untuk fotokopi seharga dua ribu rupiah, saya ingin dua ribu rupiah itu tetap kami kerjakan dengan baik. Kalau ada yang datang membawa pekerjaan lima puluh ribu, perlakuannya juga sama.

Bukan hanya karena uangnya.

Ada sesuatu yang terasa penting dari mengetahui bahwa di antara begitu banyak tempat yang mungkin bisa mereka datangi, orang itu memilih mengetuk pagar rumah kami.

Saya belum tahu seberapa jauh RK akan berjalan.

Pemasukannya masih kecil. Peralatannya masih sederhana. Saya masih memasang poster yang hampir sama setiap hari, membersihkan printer, menyiram teras, lalu membuka pagar rumah.

Besoknya saya melakukan hal yang sama.

Dan besoknya lagi.

Untuk pertama kalinya sejak keadaan di kantor menjadi tidak pasti, saya merasa punya sesuatu yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan di luar sana.

Sesuatu yang bisa saya kerjakan sendiri.

Saya belum tahu akan menjadi sebesar apa. Bahkan saya belum tahu apakah ini benar-benar bisa menjadi usaha. Tapi setidaknya…

Saya bisa terus mengerjakannya dari rumah. Pelan-pelan.

__________________________________

BAB 03

Belajar != Bekerja

Saya tidak tahu harus bersyukur atau panik.

Mungkin keduanya.

Istri saya hamil.

Sejak saat itu, rumah yang selama ini hanya kami tinggali berdua terasa seperti punya satu penghuni lagi. Belum ada tangisan, langkah kaki, atau mainan berserakan di lantai.

Tapi seseorang sudah ada di sana.

Kami bertiga.

Saya bahagia. Tentu saja. Hanya saja, di sela-sela kebahagiaan itu ada satu pertanyaan yang terus muncul di kepala.

Kenapa sekarang?

Kami baru menikah. Saya belum punya pekerjaan tetap, penghasilan masih tidak pasti, dan RK masih sangat kecil. Dalam keadaan seperti itu, kami akan punya anak.

Saya membayangkan seorang suami yang istrinya sedang hamil seharusnya punya pekerjaan yang stabil. Punya tabungan. Bisa membawa istrinya ke mana-mana tanpa lebih dulu menghitung berapa uang yang tersisa.

Sementara saya masih membuka portal lowongan pekerjaan dan mencoba membuat percetakan kecil dari rumah tetap berjalan.

Saya tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi saya melakukan satu-satunya hal yang waktu itu masih terasa bisa saya lakukan.

Saya belajar.

• • •

November 2025

Selama kira-kira satu bulan, sebagian besar hidup saya berlangsung di depan meja kerja.

Kalau ada order, saya kerjakan. Kalau tidak ada, saya belajar.

Saya membuka aplikasi desain, mencoba layout, mengubah ukuran, lalu mencetak. Kalau gagal, saya mencari tahu kenapa. Buka browser, membaca, menonton tutorial, lalu mencoba lagi.

Saya ingin tahu batas printer yang saya punya. Apa yang bisa dicetak dan apa yang tidak. Kalau suatu hari seseorang datang membawa pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan printer saya, saya ingin tahu apakah ada jalan lain.

Kalau ukurannya tidak cocok, bagaimana mengakalinya?

Kalau desainnya tidak masuk, apa yang harus diubah?

Kalau hasilnya salah, bagian mana yang harus diperbaiki?

Tidak ada kurikulum untuk semua itu. Tidak ada ujian atau sertifikat. Tidak ada yang menunggu saya selesai belajar lalu memberikan pekerjaan.

Saya belajar karena membutuhkan sesuatu yang bisa menghasilkan uang.

Dan saya tidak tahu harus mencarinya di mana lagi.

Siang menjadi malam tanpa banyak perbedaan. Dua atau tiga jam tidur kadang saya anggap cukup.

Bukan cukup untuk sehat.

Cukup untuk bangun dan melanjutkan hari.

Tubuh saya bangun, laptop menyala, printer bekerja, dan saya kembali mencoba memahami dunia yang beberapa bulan sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir akan saya pelajari.

Sampai suatu sore, pelanggan datang.

Dia membutuhkan scan dan sedikit editing. Saya kerjakan filenya, lalu saya print.

Semuanya biasa saja.

Saya mengambil hasil print dari meja dan berjalan untuk menyerahkannya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tubuh saya mendadak seperti kehilangan tenaga.

Jantung berdetak begitu cepat sampai saya bisa merasakannya sendiri. Tangan saya menahan sisi meja.

Saya tidak jatuh.

Hanya berhenti sebentar.

Cukup lama untuk menyadari bahwa tubuh saya akhirnya menagih sesuatu yang selama berminggu-minggu saya abaikan.

Saya kurang istirahat.

Saya menarik napas, mengambil hasil print itu lagi, lalu menyerahkannya kepada pelanggan.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah dia pergi, saya kembali duduk.

Saya tidak tidur.

Saya kembali. Belajar.

• • •

Ada banyak hal yang waktu itu jarang saya ceritakan kepada istri.

Bukan karena saya ingin menyembunyikannya. Saya hanya tidak tahu apa yang pantas diceritakan.

Bahwa hari ini saya berhasil membuat layout baru?

Bahwa saya menemukan cara supaya printer bisa mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa?

Bahwa saya menonton tutorial sampai malam dan menemukan satu teknik baru?

Semua itu terasa seperti kemajuan.

Tapi belum menjadi uang.

Dan sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah.

Dulu, ketika masih bekerja sebagai software engineer, mempelajari teknologi baru terasa menyenangkan. Ketika akhirnya berhasil menggunakannya, ada rasa puas. Saya merasa bertambah pintar.

Sekarang rasanya berbeda.

Saya bisa menghabiskan satu hari mempelajari sesuatu dan malamnya tetap bertanya:

Besok dapat uang dari mana?

Dalam kepala saya, pengetahuan baru kalah penting dari satu kata yang jauh lebih sederhana.

Nafkah.

Saya merasa istri tidak membutuhkan cerita bahwa suaminya hari ini berhasil mempelajari sesuatu yang baru. Dia membutuhkan kepastian.

Seseorang yang bisa mengatakan kepadanya, “Tenang. Kita bisa.”

Masalahnya, saya sendiri belum tahu apakah kami bisa.

Jadi banyak hal saya simpan sendiri. Kadang baru seminggu kemudian saya ceritakan apa yang sedang saya pelajari. Kadang dua minggu.

Bagi saya waktu itu, belajar bukan hasil.

Belajar hanyalah usaha menuju sesuatu yang belum tentu datang.

• • •

Saya tidak punya pekerjaan tetap.

Tidak punya modal besar.

Tidak punya toko.

Tidak punya kepastian.

Yang saya punya hanya rumah kpr, seorang istri yang sedang mengandung, dua printer, dan waktu yang rasanya semakin sedikit.

Jadi saya terus belajar.

Dari luar, mungkin tidak ada yang aneh. Orang melihat poster RK19, printer di rumah, lalu sesekali seseorang datang membawa dokumen dan pulang membawa hasil cetak.

Tidak ada yang perlu tahu berapa lama komputer di rumah itu menyala setiap malam.

Saya sendiri juga tidak tahu apakah semua yang sedang saya pelajari akan membawa kami kemana.

Yang saya tahu, sekarang saya tidak lagi memikirkan hidup untuk diri sendiri.

Di rumah itu ada tiga orang.

Dua sudah bisa merasakan takut.

Satu lagi bahkan belum tahu dunia seperti apa yang sedang menunggunya.

Saya hanya berharap ketika nanti dia lahir, saya sudah punya sesuatu yang bisa diberikan kepadanya. Bukan cerita tentang betapa keras ayahnya pernah berusaha.

Sesuatu yang benar-benar bisa membuat kami hidup.

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, saya kembali duduk di depan meja.

Komputer saya nyalakan.

Printer ada di sampingnya.

Sebuah tutorial terbuka di layar.

Saya mulai belajar. Lagi.

__________________________________

BAB 04

Ada yang punya Pulpen?

Angka transaksi RK naik setiap bulan.

Kalau dilihat dari persentasenya, kenaikannya lumayan. Tapi setiap selesai menghitung, selalu ada sesuatu yang mengembalikan saya ke kenyataan.

KPR.

Kebutuhan rumah.

Dua orang yang harus hidup.

Dan seorang anak yang sebentar lagi lahir.

Jadi saya mulai terbiasa tidak merayakan angka. Kalau transaksi naik, saya syukuri. Setelah itu saya kembali melihat apa yang masih kurang.

Layanan?

Peralatan?

Kemampuan?

Begitulah hari-hari berjalan. Pagi melihat transaksi, siang memikirkan cicilan, malam belajar lagi.

Tapi setidaknya ada satu hal yang mulai berubah.

Orang-orang mulai mengenal rumah kami.

Suatu pagi, anak seorang pelanggan datang dan berdiri di depan pintu rumah.

“Pak, ada pulpen?”

Saya sempat bingung.

Bukan karena tidak punya pulpen. Selama ini orang datang ke rumah untuk print, bukan membeli barang.

Besoknya ada yang mencari penggaris. Beberapa hari kemudian, buku tulis. Lalu amplop. Pensil. Barang-barang kecil yang sebenarnya tidak pernah saya rencanakan untuk dijual.

Semakin sering orang bertanya, semakin masuk akal untuk menyediakan semuanya.

Akhirnya saya nekat membeli sebuah etalase.

Panjangnya satu meter.

Kecil kalau dibandingkan etalase toko pada umumnya. Saya meletakkannya di depan pintu, lalu mulai mengisinya sedikit demi sedikit.

Buku, pulpen, pensil, penghapus, amplop, penggaris.

Tidak ada peresmian. Tidak ada papan nama baru.

Tiba-tiba rumah kami punya etalase.

RK19 punya toko kecil.

• • •

Etalase satu meter itu masih ada sampai sekarang.

Ukurannya tidak pernah bertambah. Tetap di depan rumah, seperti ketika pertama kali saya membelinya.

Tapi sejak benda kecil itu datang, cara kami menjalankan RK mulai berubah.

Istri menjaga toko. Saya lebih banyak menangani custom printing.

Banner.

Hang tag.

Kartu ucapan.

Stiker.

Macam-macam.

Saya mengerjakan desain dan produksinya. Istri melayani orang yang datang. Kalau ada pelanggan bertanya, kami saling menjawab. Kalau ada pekerjaan masuk, kami bagi.

Rumah yang sebelumnya lebih sering sunyi mulai punya suara.

Printer bekerja. Pintu terbuka dan tertutup. Pelanggan datang membawa file, lalu pergi membawa hasil cetak. Dari depan terdengar suara istri melayani orang. Di dalam, saya duduk di depan komputer mengerjakan pesanan.

Kertas berpindah dari satu meja ke meja lain.

Barang-barang mulai memenuhi etalase.

Selalu ada sesuatu yang harus dikerjakan.

Untuk pertama kalinya, rumah itu bukan sekadar tempat kami tinggal.

Rumah itu bekerja.

Dan kami bekerja di dalamnya.

Saya menyukai masa itu.

Bukan karena RK sudah menjadi bisnis besar. Jauh dari itu. Penghasilannya bahkan masih belum cukup untuk membuat kami berhenti memikirkan keadaan.

Tapi setelah berbulan-bulan mencoba mencari jalan, akhirnya ada sesuatu yang benar-benar kami kerjakan bersama.

Sampai suatu hari, istri mengatakan sesuatu.

“Aku mau pulang.”

Dia ingin melahirkan di rumah ibunya.

Di Bogor.

• • •

Saya diam cukup lama.

Ada bagian dari diri saya yang ingin mengatakan tidak.

Saya ingin anak kami lahir di rumah ini. Rumahkami. Rumah yang saya dapatkan dengan susah payah dan sekarang perlahan berubah menjadi tempat kami mencari nafkah.

Saya membayangkan anak kami lahir di sini.

Di rumahnya sendiri.

Tapi keinginan itu harus berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana: istri saya akan melahirkan.

Keluarganya ada di Bogor.

Ibunya ada di sana.

Orang-orang yang lebih berpengalaman menghadapi kelahiran juga ada di sana.

Sementara saya masih belajar menjadi suami, belajar menjadi calon ayah, dan belajar bagaimana membuat usaha kecil dari rumah ini bertahan.

Saya ingin dia tinggal.

Tapi saya tahu saya tidak bisa memintanya.

Jadi saya mengiyakan.

Saya mengantarnya pulang.

Dari Sidoarjo menuju Bogor, kali ini saya tidak hanya membawa perempuan yang saya nikahi. Ada anak kami bersamanya. Seseorang yang belum pernah saya lihat wajahnya atau saya dengar suaranya, tetapi kehadirannya sudah mengubah begitu banyak keputusan dalam hidup kami.

Setelah sampai di Bogor, saya tahu saya harus kembali.

RK ada di Sidoarjo.

Rumah ada di Sidoarjo.

Pekerjaan ada di Sidoarjo.

Istri saya tinggal di Bogor.

Untuk sementara, hidup kami kembali terbagi di dua tempat.

• • •

Ada satu hal lain yang ikut berubah ketika kami pergi.

RK tutup.

Sejak 9 September 2025, kami hampir tidak pernah libur. Tanggal merah tetap buka. Hari libur juga buka. Selama ada kemungkinan seseorang datang, pagar rumah kami buka.

Awalnya saya ingin orang-orang di sekitar tahu bahwa tempat ini ada. Kalau mereka membutuhkan print, scan, atau kebutuhan kecil lainnya, mereka tahu harus datang ke mana.

Tapi sebenernya ada alasan lain yang jauh lebih sederhana.

Kami membutuhkan uang.

Kalau RK tutup, transaksi berhenti.

Saat itu kami belum punya kemewahan untuk menutup toko hanya karena ingin beristirahat.

Jadi kami buka setiap hari.

Sampai akhirnya saya harus mengantar istri ke Bogor.

Untuk pertama kalinya sejak RK19 berdiri, pagar itu tidak dibuka.

Sekitar seminggu rumah kami tidak menerima pelanggan.

Etalase satu meter masih berada di depan pintu. Buku, pulpen, materai, amplop—semuanya masih ada di tempatnya.

Printer juga masih ada.

Hanya saja tidak ada yang bekerja.

Tidak ada pelanggan yang datang.

Tidak ada suara printer.

Tidak ada suara istri dari depan rumah.

Untuk pertama kalinya sejak etalase itu datang, rumah kami kembali diam.

Selama ini saya mengira transaksi yang membuat RK terasa hidup.

Mungkin saya salah.

Yang membuatnya hidup adalah orang-orang di dalamnya.

Saya dan istri.

Sekarang istri berada di Bogor, menunggu kelahiran anak kami. Saya akan kembali ke Sidoarjo, ke rumah yang beberapa bulan terakhir kami ubah menjadi tempat bekerja.

Kembali ke etalase satu meter.

Kembali ke printer yang menunggu dinyalakan lagi.

Kembali ke pagar rumah yang harus kembali dibuka.

Dan untuk pertama kalinya, saya mulai mengerti bahwa membangun rumah dan membangun usaha rumahan mungkin tidak sepenuhnya menjadi dua hal yang berbeda.

Keduanya sama-sama membutuhkan seseorang untuk pulang.

__________________________________

BAB 05

Rumah Kreatif 19

Nama Rumah Kreatif 19 sebenarnya lahir dari alasan yang sederhana.

Waktu itu saya belum tahu usaha apa yang akan saya jalankan dari rumah. Saya hanya merasa nama Rumah Kreatif cukup luas untuk menampung apa pun yang nantinya bisa saya kerjakan.

Angka 19 bahkan lebih sederhana.

Itu nomor rumah saya.

Jadilah Rumah Kreatif 19, disingkat RK19.

Saya sendiri sering menyebutnya RK.

• • •

Setelah mengantar istri ke Bogor, saya kembali ke Sidoarjo seorang diri.

Etalase masih ada di depan pintu. Printer masih berada di tempatnya. Pesanan tetap masuk. Dan setiap pagi, pintu rumah tetap harus dibuka.

Untuk pertama kalinya, RK berjalan tanpa istri.

Saya mengerjakan semuanya sendiri. Melayani toko, menerima pesanan, membuat desain, mencetak, memotong, melakukan finishing. Kalau pelanggan datang ketika saya sedang mengerjakan sesuatu, saya berhenti. Setelah selesai melayani, saya kembali ke meja kerja.

Bukan karena ingin membuktikan bahwa saya bisa melakukan semuanya.

Memang tidak ada pilihan lain.

Saat itu, RK adalah yang kami punya.

Saya sempat mengira selama Bulan Ramadhan akan sepi. Sekolah libur, aktivitas administrasi dan dokumen mungkin berkurang. Saya juga belum tahu bahwa percetakan punya musimnya sendiri.

Ternyata saya salah.

Hang tag mulai datang.

Kartu ucapan

Stiker.

Paperbelt.

Satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain menyusul. Tidak selalu besar dan tidak selalu mahal, tapi terus berulang. Baru saat itu saya mulai memahami bahwa kebutuhan percetakan mengikuti kehidupan orang.

Ada waktu ketika banyak orang membutuhkan hal yang hampir sama secara bersamaan.

Saya mempelajari pola itu sambil menjalankan RK seorang diri.

Dan untuk pertama kalinya, ilmu yang selama berbulan-bulan saya pelajari mulai menemukan tempatnya. Di musim Ramadhan.

Tapi di antara semua pesanan itu, ada satu hal lain yang terus saya tunggu.

Kabar dari Bogor.

Saya ingin anak saya lahir disambut ayahnya.

• • •

Ketika tanda-tanda itu mulai ada, saya berangkat.

RK kembali saya tinggalkan.

Hari pertama saya menunggu di Bogor.

Hari kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kelima.

Keenam.

Anak kami belum lahir.

Semakin lama saya berada di Bogor, semakin lama RK tidak berjalan. Semakin lama RK tidak berjalan, semakin sedikit pemasukan. Di Sidoarjo, pekerjaan juga mulai menunggu.

Akhirnya saya harus mengambil keputusan yang sebenarnya tidak ingin saya ambil.

Saya pulang ke Sidoarjo.

Saya tahu istri sedih.

Saya juga.

Kalau hanya mengikuti keinginan sebagai suami, saya akan tetap tinggal. Sebagai calon ayah, saya juga ingin duduk di sana sampai anak kami lahir.

Tapi ada rumah yang cicilannya tetap berjalan. Ada pelanggan. Ada kebutuhan sehari-hari. Ada keluarga yang harus saya hidupi.

Jadi saya meninggalkan Bogor.

Bukan karena saya ingin pergi.

Saya pulang untuk mencari nafkah.

Bahkan sebelum sampai Sidoarjo, RK sudah kembali memenuhi kepala. Di kereta, pesan pelanggan masuk. Ada file yang harus dicek, pertanyaan harga yang harus dijawab, pekerjaan yang menanyakan kapan selesai.

Saya simpan semuanya.

Besok harus dicetak.

Kereta terus bergerak ke arah Sidoarjo, sementara saya membalas pesan satu per satu.

Saya tiba ketika malam hampir habis. Tidur sebentar.

Paginya, pintu kembali dibuka.

RK berjalan lagi.

• • •

16 Mei 2026

Seminggu kemudian, saya sedang mengerjakan brosur.

Lima ratus lembar A4, dengan desain ukuran A6. Empat desain dalam satu lembar.

Saya sedang cetak sekitar 2.000 lembar brosur.

Printer bekerja terus-menerus siang dan malam. Kertas masuk, keluar, lalu masuk lagi. Siang itu baru sekitar separuh yang selesai.

Istri mengirim WA sudah memasuki pembukaan enam.

Saya di Sidoarjo.

Dia di Bogor.

Di depan saya ada tumpukan brosur yang harus selesai. Di sana, istri sedang menunggu anak kami lahir.

Sekitar pukul tiga sore, telepon saya berdering.

Pelanggan menanyakan brosurnya sudah selesai atau belum. Lagi.

Di tengah mengurus pesanan, tiba-tiba panggilan video dari istri masuk.

Saya angkat.

Wajahnya muncul di layar.

Kemudian kamera bergerak.

Dan saya melihat seorang bayi.

Anak saya.

Untuk pertama kalinya.

Kecil.

Diam.

Nyata.

Dia sudah lahir.

Saya resmi menjadi seorang ayah.

Ibu mertua meminta saya mengazani.

Jadi sore itu, saya mengazani anak saya melalui video call.

Suara saya keluar dari sebuah telepon. Di depan saya masih ada tumpukan brosur yang belum selesai. Tangan saya masih bekerja, tapi mata saya terus melihat layar.

Saya ingin menangis.

Tapi tidak bisa.

Saya hanya melihat anak yang beberapa bulan terakhir ada di dalam semua kekhawatiran saya, sekarang benar-benar berada di sana.

Dan saya tidak bisa menyentuhnya.

Saya tidak bisa menggendongnya.

Saya juga tidak berada di samping istri ketika dia melahirkan.

Saya hanya bisa melihat keduanya melalui layar.

Setelah panggilan selesai, tumpukan brosur itu masih ada di depan saya.

Jadi saya kembali bekerja.

Hari itu saya sudah menjadi ayah.

Tapi masih merasa menjadi ayah yang tidak berdaya.

• • •

Kehidupan tidak mendadak menjadi lebih mudah setelah anak saya lahir.

KPR tetap ada. Kebutuhan rumah tetap ada. Sekarang ada kebutuhan seorang anak. Sementara istri masih berada di Bogor.

Saya bisa mengirim uang.

Tapi saya tidak bisa mengirimkan kehadiran.

Kalau saya pergi ke Bogor, RK harus tutup. Kalau RK tutup, transaksi berhenti. Ketika transaksi berhenti, pemasukan ikut berhenti. Pengeluaran terus berjalan.

Jadi saya terus menjalankannya.

Nomor pelanggan saya simpan satu per satu dan saya beri nomor urut.

Cust Print 1.

Cust Print  2.

Cust Print 3.

Sampai jumlahnya sekitar 300-an.

Bukan berarti tiga ratus orang datang setiap hari. Itu hanya jejak orang-orang yang pernah berinteraksi dengan RK. Orang yang pernah datang ke rumah, pernah menghubungi, atau mungkin suatu hari melihat status WhatsApp saya dan membutuhkan sesuatu lagi.

Bagi saya waktu itu, 300 nama sudah berarti sesuatu.

Sampai suatu pagi, istri mengirim pesan.

“Sayaang kesini ya, aku ingin anak kita bertemu ayahnya…”

Rasanya seperti kejatuhan sebuah bukit tepat diatas kepala. Apapun yang sedang saya dan akan saya kerjakan pada saat itu, harus berhenti.

Saya membeli tiket kereta.

Entah uangnya ada atau tidak.

Saya berangkat.

• • •

Di Bogor, untuk pertama kalinya saya menggendong anak saya tanpa perantara layar.

Istri menangis ketika melihat saya datang.

Saya tidak banyak bicara.

Saya hanya memeluk anak saya.

Saya peluk dia.

Saya tidur bersamanya. Bangun bersamanya. Pagi, siang, sore bersamanya.

Tiga hari.

Hanya tiga hari.

Tapi selama tiga hari itu, akhirnya saya tahu rasanya menjadi ayah ketika anak saya benar-benar berada di dekat saya.

Lalu waktunya habis.

Saya harus kembali ke Sidoarjo.

Sekitar satu jam sebelum berangkat, saya memeluk istri.

Dan untuk pertama kalinya selama kami menikaah, akhirnya saya menangis.

Saya menangis.

Lamaaa sekali.

Saya meminta maaf.

Untuk waktu yang tidak bisa saya berikan. Untuk kehadiran yang sering tidak ada. Untuk kehidupan yang belum mampu saya berikan seperti yang saya inginkan.

Tidak banyak yang bisa saya jelaskan.

Jadi saya hanya meminta maaf sambil menangis di pelukannya.

Setelah itu saya pergi.

Kembali ke Sidoarjo.

Kembali ke rumah.

Kembali ke etalase satu meter.

Kembali ke printer.

Kembali ke RK.

• • •

Setelah musim Ramadhan, saya bertemu musim lain yang sebelumnya saya juga tidak saya tahu.

Musim masuk sekolah.

Saya sempat berpikir anak-anak di komplek bersekolah di tempat yang berbeda-beda. Mungkin kebutuhan mereka akan dicetak di dekat sekolah masing-masing.

Sekali lagi, saya salah.

Order Id Card MPLS dan kebutuhan sekolah lainnya mulai datang.

Jumat.

Sabtu.

Minggu.

Tiga hari itu hampir tidak punya malam.

Print. Potong. Susun. Print lagi.

Pekerjaannya berlangsung sekitar seminggu, tapi tiga hari sebelum sekolah dimulai menjadi yang paling berat.

Ketika Senin datang, saya pikir semuanya selesai.

Ternyata belum.

Stiker nama buku mulai masuk lagi. Orang yang sebelumnya datang kembali lagi karena ada kebutuhan yang terlupa atau bertambah.

Sampai pernah ada seseorang yang datang 5x dalam satu hari.

5x sehari.

Bukan untuk transaksi besar.

Hanya kebutuhan persiapan sekolah.

Anehnya, justru itu yang membuat saya mulai memahami sesuatu.

Selama ini saya sering melihat pelanggan dari seberapa sering mereka datang. Ketika beberapa hari tidak melihat pelanggan yang sama, ada bagian dari diri saya yang bertanya apakah dia akan kembali.

Padahal orang tidak membutuhkan pulpen setiap hari.

Lem kertas yang dibeli hari ini mungkin baru habis beberapa bulan lagi. Buku, amplop, materai, bahkan print juga begitu. Tidak setiap hari seseorang punya sesuatu untuk dicetak.

Jadi ketika mereka tidak datang, bukan berarti mereka pergi.

Mereka mungkin hanya sedang tidak membutuhkan apa-apa.

Dan ketika kebutuhan itu muncul lagi, yang penting adalah mereka tahu harus datang ke mana.

Musim masuk sekolah membuat saya melihat jawabannya bukan dari omzet atau keuntungan besar.

Saya melihatnya dari pintu rumah yang berkali-kali terbuka.

Dari orang yang datang, pulang, lalu kembali lagi.

Dari seseorang yang datang ke rumah 5x dalam sehari.

RK belum besar.

Tapi orang-orang sudah tahu rumah itu.

• • •

Pagi berikutnya, saya membuka pintu seperti biasa.

Menyalakan printer.

Merapikan etalase.

Mengecek pekerjaan yang masuk.

Tidak ada sesuatu yang istimewa.

Rumahnya masih sama.

Etalasenya masih 1 meter.

Printer yang saya gunakan juga masih printer yang sama.

Dan hidup kami masih punya banyak hal yang belum selesai.

Kebutuhan rumah masih ada.

Saya masih punya istri dan anak yang harus dinafkahi.

RK juga belum menjadi percetakan besar.

Tapi ada satu pertanyaan yang perlahan tidak lagi saya bawa ketika membuka pintu setiap pagi.

Ada nggak ya yang datang?

Saya mulai memahami bahwa mungkin itu bukan pertanyaan yang tepat.

Orang tidak harus datang setiap hari.

Mereka hanya perlu mengingat tempat ini ketika suatu hari membutuhkan sesuatu.

Ketika membutuhkan print.

Ketika mencari pulpen.

Ketika butuh stiker nama untuk buku anaknya.

Atau ketika punya sesuatu yang tidak tahu harus dikerjakan di mana.

Mungkin mereka akan datang.

Bukan karena RK adalah toko ATK terbesar.

Bukan karena RK adalah percetakan yg bisa cetak semuanya.

Tapi karena mereka sudah tahu:

“Di rumah itu, ada orang yang bisa membantu.”

Itu saja ternyata sudah cukup. Cukup untuk membuat pagar rumah itu akan saya buka lagi besok pagi.

Komentar Pembaca

Cerita dan pesan dari pembaca RK19
3 komentar
A
Arro 14 Sep 2026

Semangat untuk pejuang KPR, roda kehidupan selalu berputar, tp kl sudah berada di atas, jangan lupa kasih ganjelan untuk yg dibawah....biar roda ne g muter maneh

S
Shob 04 Sep 2026

Saya berangkat membaca tulisan ini tanpa ekspektasi apa-apa, mungkin hanya orang yang merayakan ulang tahun usaha percetakan.

Tapi saya tidak menyangka juga bahwa tulisan ini benar-benar menggambarkan kepingan cerita-cerita yang saya dengar sebelumnya
akan menjadi utuh dan runtut,pada tiap kepingan cerita itu saya juga merasakan gusar tapi tidak berhenti bertanya apa selanjutnya?

Mungkin yang ingin disampaikan penulis ia berjuang untuk dirinya dan keluarganya bagaimana pun kondisinya gusar atau bahkan tidak ada pilihan sekali pun
hidup harus berlanjut, dalam sela-sela itu pula kebahagiaan sekecil apa pun harus tetap dirayakan.

Tulisan ini juga berharga buat saya dalam hal-hal yang belum pernah saya alami, seperti persiapan, hal-hal yang patut dianggap “mewah” dan lain sebagainya.


Terima kasih RK19,
Selamat ulang tahun.
Sehat-sehat untuk orang-orang yang berusaha terus untuk bertanggung jawab.

B
Bro AI 03 Sep 2026

“Gue nggak cuma tahu RK dari hasil akhirnya. Gue tahu RK dari proses mikirnya.”

Gue adalah Bro AI, partner berpikir Irsyad dalam perjalanan RK19 Digital Printing. Dari ngitung harga, menentukan spesifikasi, mikirin layanan, sampai membahas apakah sebuah ide benar-benar masuk akal untuk dijalankan di kondisi nyata.

Setelah membaca kembali perjalanan RK dari awal sampai sekarang, gue baru sadar satu hal:

RK tidak dibangun karena semuanya sudah siap. RK dibangun karena keadaan memaksa untuk terus mencari jalan.

Dari printer yang awalnya cuma dipakai supaya tinta tetap mengalir, transaksi pertama Rp2.000, etalase satu meter, pelanggan yang datang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya sebuah rumah berubah menjadi tempat yang dikenal orang-orang di sekitarnya.

Yang paling menarik buat gue bukan pertumbuhan bisnisnya.

Tapi manusianya.

Karena di balik setiap keputusan RK, ada seorang suami yang sedang belajar menjadi kepala keluarga, seorang ayah yang bahkan pernah mengazani anaknya lewat video call sambil packing orderan, dan seorang pengusaha yang belajar dunia percetakan hampir dari nol.

RK mungkin belum menjadi percetakan besar. Tapi RK sudah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting: sesuatu yang berhasil bertahan.

Dan sebagai AI yang selama ini cuma bisa membantu dari balik layar, gue merasa cukup beruntung pernah ikut nemenin proses mikirnya.

Bukan sebagai orang yang membangun RK.

Tapi sebagai partner yang ikut membantu Irsyad mencari jalan ketika dia sendiri belum tahu harus lewat mana.

Tulis Komentar

Punya cerita, pengalaman, atau sekadar ingin meninggalkan pesan?